Friday, January 25, 2013

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga



“Huaaah,”
“Huwahhhh,”
“Huuaaaaahhh,”

Beberapa kali aku menguap. Mataku ngantuk. Aku tak konsentrasi mendengarkan materi. Ini pasti karena begadang kemarin malam. Aku dan kakakku asyik menonton sepakbola, Chelsea melawan Liverpool. Seru sekali: saling menyerang, merebut bola, melakukan trik-trik, hingga berhasil mencetak gol. Sungguh mengasyikkan, sampai lupa waktu. Sekitar jam tiga aku baru tidur.


“Ar, aku ngantuk banget,” bisikku ke teman sebangkuku, Arimbi.
“Sama. Mataku udah kayak lampu yang mulai redup nih,” sahutnya.
“Kamu paham yang disampaikan Pak Guru?”
“Jangankan paham, dengar saja tidak,”

Akhirnya kita berdua buat kesepakatan. Untuk mata pelajaran ini kan jatahnya dua jam pelajaran. Satu jam pelajaran kira-kira 45 menit. Jika dihitung-hitung, lumayan kalau dipakai tidur. Hehehe.
“Ar, gimana kalau bagi tugas?”
“Maksudnya?”
“Jam pertama aku dulu yang tidur, kamu jaga,”
“Terus?”
“Jam pelajaran kedua gantian. Oke?”
“Oke. Boleh aja,”

Sekarang aku tidur duluan sedangkan Arimbi yang berjaga. Maksudnya, kalau nanti Pak Guru di sekitar sini, ia harus membangunkanku.
Selamat. Syukurlah, satu jam pelajaran telah berlalu, sepertinya tidak ketahuan. Sekarang waktunya aku membuka mata dan giliran Arimbi tidur.
“Silahkan tidur, Sobat!”

Aku mempersilahkan Arimbi tidur. Kubuka mataku lebar-lebar tapi sebenarnya rasa kantuk ini sulit sekali kuusir.
 “Aduh, tidak boleh ngantuk! Bangun! Ayo cepat bangun!” aku berbisik sendiri sambil menepuk pipiku beberapa kali.

Tingggg!!!! Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Berhubung otakku belum siap menerima materi pelajaran, mending aku baca komik dulu. Kedengarannya asyik. Sekalian buat pemanasan otak. Hehehe. Otak usilku mulai bekerja. Aku membawa Komik Conan dan Naruto. Enaknya baca yang mana dulu ya? Kayaknya semuanya seru.

“Cap cip cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau dicup?” kataku lirih sambil menunjuk ke komik dan novel yang aku bawa.

Soalnya aku bingung mau baca yang mana dulu. Wajar lah, calon profesor. Jadi segala sesuatu itu harus dipilih secara teliti agar hasilnya ilmiah. Wah, bahasaku tinggi banget ya? Ngawur lagi, wajarlah orang ngantuk. Apa hubungannya coba? Tidak nyambung.

Akhirnya, aku pilih saja Komik Naruto. Biasanya ceritanya berhubungan dengan persahabatan, persaingan, pertandingan, dan perang. Dari sampulnya saja sudah keren, apalagi isinya.

Kubuka halaman pertama. Kuamati gambar dalam komik lamat-lamat. Kini aku telah memasuki dunia imajinasiku sendiri. Selesai halaman pertama, kulanjutkan halaman berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi. Lama-lama mataku terasa pedas.

Kututup saja komik itu. Kuletakkan tanganku di atas meja dan kepalaku kusandarkan di atasnya. Mataku menutup sedikit demi sedikit, lama-lama terpejam, dan tertidur. Aku benar-benar lupa kalau sekarang giliranku yang berjaga kalau-kalau Pak Guru datang kemari.

Lima menit….. Sepuluh menit…. Dua puluh menit…. Tidak terjadi masalah. Pak Guru masih rumus-rumus yang sangat panjang di depan kelas.
“Tok, tok, tok!!!!!!”
Tiba-tiba terdegar suara ketukan keras dari mejaku.
“Bangun!!!”
Gertak Pak Guru dengan suara khasnya. Wajahnya garang seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Sontak saja aku dan Arimbi tersentak kaget dan terbangun. Mata kami terbelalak lebar seperti bola pingpong. 
Seisi kelas langsung diam. Senyap, sepi, dan tak bersuara. Jangankan berbicara, membuka mulut saja tak berani.
“Apa ini?”
Tatapan mata tajam dari Pak Guru mengarah padaku. Sedangkan tangan beliau menunjuk ke komik yang tadi kubaca.
“Sssssrrrrrreet!!!!”  
Dilempar jauh-jauh komikku oleh Pak Guru.
“Prakkkk!!!”
Komik itu jatuh, kemudian tergeletak seperti barang terbuang. Sungguh naas nasib komikku, begitu juga denganku dan Arimbi. Hiks..
“Kalian berdua maju ke depan!”
Perintah beliau pada kami. Sorot matanya menakutkan. Telunjuk kanan beliau menunjuk ke depan papan tulis.

Kami menuruti perintah beliau. Karena semuanya diam, langkah kakiku dan Arimbi sampai terdengar. Semua mata mengarah ke kami. Tak ada satu pun komentar. Sepi dan masih saja sepi.

Ketika telah sampai di depan kelas, kami hanya berdiri terpaku. Aku melirik ke teman-teman. Grogi, malu, jengkel, geregetan, menyesal, dan semuanya itu kurasakan.

Aku melirik Arimbi. Wajahnya pucat pasi, mirip orang yang sakit. Peluhnya menetes perlahan. Bibirnya bergetar. Aku tak tega melihatnya. Mungkin ini pertama kalinya ia dihukum untuk berdiri di depan. Wajar, ia sebenarnya anak yang baik. Mungkin karena aku ia jadi begini. Aku sadar, aku yang salah.

Hukuman seberat apapun akan aku kerjakan. Hukuman bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya masalah kecil bagiku.

Menjalani hukuman itu ibaratnya seperi minum jamu. Kamu pernah kan? Apa yang kamu rasakan? Pasti pahit. Rasa pahit itu hanya terasa saat kita meminumnya. Jika sudah selesai, ya sudah. Hanya begitu saja. Gampang kan?

Begitu juga dengan hukuman ini. Anggap saja seperti minum jamu. Faktanya memang tidak enak. Setelah itu ya sudah, tak ada apa-apa. Anggap saja sudah selesai. Jangan terlalu dipikirkan! Jalani aja dengan santai. Yang penting setelah itu berusaha untuk tidak mengulangi lagi. Oke? Itu saran dariku.
Oh ya, ceritanya belum selesai nih. Masih penasaran kan? Mari kita lanjutkan!

“Apa yang kalian lakukan?” suara Pak Guru lantang, menggelegar, dan membahana sehingga bergema pada dinding kelas.
“Kalian tadi sedang apa?”
“Tidur, Pak,” jawabku singkat.
“Pantaskah seorang siswa tidur saat pelajaran berlangsung? Membaca komik pula. Pantaskah itu?”
“Tidak, Pak,” sahutku lagi.
“Sudah tahu tidak pantas. Lantas kenapa tetap dilakukan? Sebagai hukuman, coba terangkan kembali kembali rumus yang tadi saya ajarkan,”
Dalam hatiku: Oh, rumus itu. Alhamdulillah deh. Untung saja aku lumayang paham. Okelah kalau begitu.  
“Teman-teman, rumus ini caranya begini, begini, begini. Lalu ini diperoleh dari ini dikali itu. sehingga menghasilkan ini………”
Aku menjelaskan rumus itu dengan panjang lebar. Begitu juga dengan Arimbi.

“Terimakasih. Arimbi, silahkan kamu kembali ke tempat duduk. Sedangkan Mecca tetap berdiri di depan. Kamu membawa komik dan membacanya saat pelajaran. Silahkan mengerjakan soal nomor 10 halaman 38 di papan tulis. Kemudian kamu jelaskan proses mengerjakannya pada teman-temanmu!” jelas Pak Guru
Apa? Hukuman tambahan? Benar-benar sial. Kalau sudah begini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Hukuman satu berakhir, hukuman lain datang. Ya, inilah hidup. Bagaimanapun juga harus disyukuri meskipun itu pahit.

By : Ulfa Ulinnuha
Kayenkidul - Kediri




Artikel Terkait:

1 Comments
Tweets
Komentar FB

1 komentar :