Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata.
Kursi tinggi hitam legam itu membuatnya nyaman, seakan tak mau beranjak. Kicauan burung-burung berdasi yang jadi pesuruhnya tak sepatah pun dia dengarkan. Entahlah, ini terlalu sayang untuk dilewatkan, pikirnya. Belum sempurna satu hari dia menjabat, serasa surga telah berada di tangannya. Surga dunia yang jadi dambaan semua orang.
Kursi tinggi hitam legam itu membuatnya nyaman, seakan tak ada hal lain yang dia inginkan. Tangannya yang berhias emas dan perak meraih laporan hitam di atas putih yang tertulis rapi. Ah, ini hanya tulisan, tak perlu dihiraukan. Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata, membaca laporan panjang tak berguna tentang kenaikan harga, bencana alam, dan demonstrasi mencari-muka. Adakah sesuatu yang bisa menarik perhatiannya?
Terdengar pintu diketuk dari luar. “Silahkan masuk.” ujarnya singkat. Seorang pria paruh baya dengan muka licik tersenyum pamrih.
“Bu, rapat dengan anggota dewan akan dimulai sebentar lagi, dijadwalkan pukul satu siang ini,” ucap pria itu dengan nada semanis madu.
“Batalkan semua rencana hari ini, Pak Didin,” jawab wanita itu dengan senyum mengembang di wajahnya. “Anda pikir saya robot yang bisa diatur?” nada suara wanita itu mengalun seperti lantunan musik, musikalitas sebuah pisau tajam yang siap membunuh.
“Saya tidak berpikir seperti itu, Bu.” ucap Didin ketakutan.
“Kau dipecat!”
“Ap..., Apa?”
“Saya rasa saya perlu orang yang tahu betul apa yang saya inginkan. Anda boleh pergi.”
Didin hanya bisa mendelik kepada wanita itu. Keterkejutannya mengalahkan kemarahannya. Sebaliknya, wanita itu lagi-lagi menyipitkan mata. “Jika anda tidak pergi dari hadapan saya, saya bisa menghancurkan keluarga anda saat ini juga. Tentu anda tidak menginginkan hal itu terjadi.”
Mata cokelat itu kembali menatap barisan kata yang tersaji di depannya. Tak merasa apapun, seakan apa yang baru saja dia lakukan adalah hal sederhana, sesederhana anak kecil bermain dengan bonekanya.
Wanita itu beranjak dari singgasananya yang membisu. Siapa yang peduli dengan jadwal? pikirnya geli. Hari ini dia punya jadwal pribadi yang harus segera dilaksanakan. Dia harus mengunjungi beberapa toko pakaian karena dia butuh pakaian mewah, tentu saja. Tempat-tempat spa untuk memanjakan tubuhnya yang lelah karena duduk seharian. Dia sibuk, sangat sibuk.
Masih ada banyak waktu untuk membunuh hak-hak rakyat yang jadi sampah di negeri ini. Masih banyak kesempatan untuk menguras uang negara sampai habis tak bersisa. Masih ada dalam genggamannya bertahun-tahun lagi untuk menjalin kerjasama dengan para koruptor di negeri ini. Kenapa dia harus repot-repot jadi anggota dewan kalau bukan untuk semua itu? Wanita itu tertawa dalam hati. Dunia ini sudah tidak sepolos itu.
Terik mentari jatuh menyinari hijaunya pohon dan mata jernih sang mawar yang sedang menggoda kupu-kupu. Tampaknya kupu-kupu sedang berpikir, akan memilih mawar berduri atau pesona keperawanan bunga lain? Mentari sama sekali tak peduli, sinarnya yang hangat mengalahkan hangatnya seduhan teh manis dalam cangkir putih yang terhidang di depan bos-bos eksekutif. Bahkan sinarnya mampu menembus hati, menghangatkan sanubari yang lelah mencari sesuap nasi.
Seorang anak kecil berjalan sambil menenteng sepatu bututnya, mengiba pada para penghuni jalanan yang lewat di depannya. Matanya mengedip-ngedip merayu manja berharap recehan akan didapatkannya dari tangan-tangan sang derma. Teracuh, anak kecil itu bak patung selamat datang saja, tak satupun orang peduli, bahkan melirik padanya. Sekitar lima langkah kaki, wanita itu mengamati si kecil, lagi-lagi dia menyipitkan mata. Tangannya mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dan memberikannya pada anak itu. Seketika si anak menjerit histeris dan menciumi wanita itu, yang menghindar dengan tatapan jijik. Wajahnya cemberut dan garis-garis parasnya nampak tidak suka. Si anak semakin histeris, seakan tak pernah melihat sesuatu yang lebih bernilai daripada uang. Jelas, tak ada yang sebanding dengan nominal uang yang ada di tangannya.
Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata. Dia tidak suka seseorang menyentuh tubuhnya, apalagi menciuminya. Bisa saja dia menampar wajah anak kecil itu, yang telah lancang menodai bajunya yang suci. Tapi di depan rakyat, dia bisa saja berakting. Bukankah hidup ini hanya sandiwara?
“Terimalah uang itu, Nak. Berilah keluargamu makanan yang lezat-lezat malam ini.” ucapnya dengan suara mendayu-dayu.
Orang-orang di sekitar jalan menoleh, ingin tahu apa yang terjadi ketika seorang anak tiba-tiba menjerit, mengharu-biru di tengah-tengah mereka. Sebagian mengenali wanita itu, mereka yang memilihnya dengan sedikit uang kotor pada pemilihan umum. Namun sebagian tidak mengenali, hanya saja mereka ikut terenyuh atas perbuatan mulia wanita itu, yang tidak semua orang bisa lakukan. Mungkin sebagian yang belakangan ini berhasrat memilih wanita itu di pemilihan yang akan datang. Ya, seakan mendapat keberuntungan besar, wanita itu tidak tahu kalau orang-orang yang telah disuapnya mulai membisikkan rayuan-rayuan surga pada yang lain, dengan harapan mendapat tip lebih banyak. Sekali tepuk, dua lalat mati.
Wanita itu mendatangi pengemis, berbagi sedekah pada mereka...
Para korban bencana, ikut membantu pendanaan dan pengungsian...
Pengamen jalanan, mencarikan pekerjaan...
Sopir bus, mendengarkan keluh kesah mereka...
Buruh dan para petani, menyelesaikan masalah panen dan pengairan...
Pedagang pasar, membantu mengendalikan laju dan kenaikan harga-harga...
Tubuhnya rebah di atas ranjang putih nan empuk. Matanya terpejam menahan lelah karena sebulan ini tak berhenti mencitra di depan publik. Tentu, itu semua semata-mata demi pencitraan. Ah, ternyata menjadi orang munafik juga melelahkan dan butuh usaha keras. Siapa bilang hanya kebaikan yang butuh usaha ekstra? Nyatanya kejahatan membutuhkan usaha keras yang sama. Dunia ini sudah tidak selugu itu.
Matanya perlahan membuka, menatap langit-langit kamarnya yang luas dan berhias lampu kristal impor dari Brasil. Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata. Bibirnya mengulum senyum tipis, senyuman licik simbol kemenangan. Misi itu harus segera terlaksana! Pikirnya. Dia tidak boleh gagal. Tapi tenang, dia harus lebih sabar dan hati-hati sekarang. Memang sudah diduga, akan ada kerikil bahkan batu kasar yang jadi sandungan. Anjing-anjing di bawah telapak kakinya sudah mengendus kucing kampung yang mengganggu. Mudah, sekali libas batu dan kerikil itu akan tersingkir dan hilang selama-lamanya. Bahkan kucing kampung itu tak akan berani mengeong lagi.
Tak berhenti tersenyum, wanita itu bangkit dari ranjang dan meraih ponsel di atas meja berukir mewah khas Italia. Tangannya yang lentik menekan satu persatu tombol di layar handphone.
“Ya, Nyonya...” terdengar suara dari seberang.
“Lakukan mulai sekarang! Rencana kita. Bunuh semua yang hidup, tikus, kucing, buaya. Kita harus mulai bersih-bersih dari sekarang. Jangan sampai ada debu yang terlewat, apalagi sampah!”
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Kau tahu apa yang aku mau. Aku tidak ingin ada kegagalan. Aku tidak memerlukan bantahanmu! Cukup kau lakukan perintahku atau memang kau ingin pilihan yang lain, kau tahu maksudku.” ucap wanita itu dingin. Lagi-lagi dia menyipitkan mata.
“Tidak, Nyonya. Saya mengerti.”
Dua belas tahun kemudian....
Mentari enggan berkunjung. Pohon hijau tak lagi menyejukkan mata. Lalu lalang kendaraan mewah tak lagi meramaikan jalan. Bising para pedagang dan pembeli tak lagi terdengar. Suara merdu rerumputan yang bergesekan tak lagi tertangkap daun telinga.
Sebagai gantinya, awan hitam tak pernah berhenti membayangi tempat itu. Debu-debu dan sampah-sampah telah menjadi teman hidup yang setia. Angin menerbangkan sampah ke dalam sampah. Debu ke dalam debu, menjadikannya semakin kotor dan menjijikkan. Bau pengap menusuk hidung, membuat paru-paru sesak dan menyempit.
Negara makmur jaya raya, nama itulah yang tersemat. Dulu, dulu sekali, seakan telah berjalan ratusan tahun bahkan ribuan. Tak ada seseorang yang mengenali yang lain. Tak ada ayah yang mengenali anak-anaknya. Tak ada tetangga mengenali tetangganya. Semuanya menjadi orang asing. Orang asing, di negeri sendiri.
Kata orang, dulu sekali ada wanita yang berhasil memikat mereka dengan budi luhurnya. Kata orang juga, wanita itu menjadi pemimpin mereka. Dia, dengan segala pesonanya, dan bibirnya yang memuntahkan banyak janji, telah membutakan mata mereka. Lagi-lagi kata orang, wanita itu ternyata adalah musuh di dalam selimut. Apa yang dia ucapkan tak lain hanyalah racun berbahaya yang mampu membunuh siapa saja dalam sekali tikam. Kekuatannya sungguh dahsyat. Tak seorangpun mampu menandinginya. Ketika dia memutuskan untuk melaksanakan rencana iblisnya, tak satupun berdiri untuk menentangnya. Mungkin mereka sama saja, seperti wanita itu.
Sekarang pasti dia puas, wanita itu. Dia yang selalu menyipitkan mata ketika kebenaran datang padanya, dan kejahatan menjadi pilihan hidupnya. Meskipun demikian, sungguh aneh. Ketika kejatuhan menjemput negara itu, tak satupun teman mengulurkan tangan. Teman, yang katanya menjalin persahabatan bertahun-tahun. Teman, yang katanya pernah mengalami nasib yang sama. Dan teman, yang katanya juga menjadi warga dunia. Tidak, sungguh tidak ada.
Lolongan anak kecil mengganggu keheningan di dalam gang yang sempit itu. Tak ada seorang pun yang menoleh apalagi menolong sang pemilik suara. Untuk apa? Jika suara lolongan, jeritan, lengkingan, dan isakan tangis menjadi milik siapa saja di tempat ini. Untuk apa juga? Menolong orang lain sementara diri sendiri tidak tertolong. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Bukan sibuk dalam arti sebenarnya, melainkan sibuk melamun dan meratapi nasib.
Sayang, tanpa sepengetahuan mereka, wanita itu telah terpenjara dalam selnya yang dijaga ketat orang-orang ras putih. Mahkamah internasional telah menetapkannya sebagai tersangka dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Bagi mereka, mungkin bukan hukuman yang sepadan karena sama saja wanita itu telah membunuh jutaan manusia. Hukuman mati, seharusnya. Hukuman penjara seumur hidup justru lucu bagi wanita itu, yang selalu tersenyum dan tertawa kecil di dalam selnya. Tersenyum menunggu kematian yang pasti datang. Senyum penuh misteri, entah apa yang dia pikirkan.
Tapi, lagi-lagi kata orang, dia berbicara dengan suara parau kepada sipir penjara yang bertanya, meskipun dengan takut-takut.
“Aku hanya mempercepat penderitaan mereka. Sejak kecil hidupku menderita. Orang kaya menindas kami yang miskin. Para juragan selalu memeras kami, orang-orang lemah. Orang-orang di sekitarku pun menderita. Tak ada kebahagiaan dalam hidup kami. Aku pikir orang lain juga pasti menderita. Ternyata benar, mereka memang menderita. Kami sama-sama lemah, miskin, dan tertindas. Kami hidup seperti mayat, atau mayat yang dipaksa hidup. Jadi, kenapa aku tidak membantu mempercepat penderitaan mereka? Toh sama saja akhirnya, kami semua tetap menderita.”
Kursi tinggi hitam legam itu membuatnya nyaman, seakan tak mau beranjak. Kicauan burung-burung berdasi yang jadi pesuruhnya tak sepatah pun dia dengarkan. Entahlah, ini terlalu sayang untuk dilewatkan, pikirnya. Belum sempurna satu hari dia menjabat, serasa surga telah berada di tangannya. Surga dunia yang jadi dambaan semua orang.
Kursi tinggi hitam legam itu membuatnya nyaman, seakan tak ada hal lain yang dia inginkan. Tangannya yang berhias emas dan perak meraih laporan hitam di atas putih yang tertulis rapi. Ah, ini hanya tulisan, tak perlu dihiraukan. Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata, membaca laporan panjang tak berguna tentang kenaikan harga, bencana alam, dan demonstrasi mencari-muka. Adakah sesuatu yang bisa menarik perhatiannya?
Terdengar pintu diketuk dari luar. “Silahkan masuk.” ujarnya singkat. Seorang pria paruh baya dengan muka licik tersenyum pamrih.
“Bu, rapat dengan anggota dewan akan dimulai sebentar lagi, dijadwalkan pukul satu siang ini,” ucap pria itu dengan nada semanis madu.
“Batalkan semua rencana hari ini, Pak Didin,” jawab wanita itu dengan senyum mengembang di wajahnya. “Anda pikir saya robot yang bisa diatur?” nada suara wanita itu mengalun seperti lantunan musik, musikalitas sebuah pisau tajam yang siap membunuh.
“Saya tidak berpikir seperti itu, Bu.” ucap Didin ketakutan.
“Kau dipecat!”
“Ap..., Apa?”
“Saya rasa saya perlu orang yang tahu betul apa yang saya inginkan. Anda boleh pergi.”
Didin hanya bisa mendelik kepada wanita itu. Keterkejutannya mengalahkan kemarahannya. Sebaliknya, wanita itu lagi-lagi menyipitkan mata. “Jika anda tidak pergi dari hadapan saya, saya bisa menghancurkan keluarga anda saat ini juga. Tentu anda tidak menginginkan hal itu terjadi.”
Mata cokelat itu kembali menatap barisan kata yang tersaji di depannya. Tak merasa apapun, seakan apa yang baru saja dia lakukan adalah hal sederhana, sesederhana anak kecil bermain dengan bonekanya.
Wanita itu beranjak dari singgasananya yang membisu. Siapa yang peduli dengan jadwal? pikirnya geli. Hari ini dia punya jadwal pribadi yang harus segera dilaksanakan. Dia harus mengunjungi beberapa toko pakaian karena dia butuh pakaian mewah, tentu saja. Tempat-tempat spa untuk memanjakan tubuhnya yang lelah karena duduk seharian. Dia sibuk, sangat sibuk.
Masih ada banyak waktu untuk membunuh hak-hak rakyat yang jadi sampah di negeri ini. Masih banyak kesempatan untuk menguras uang negara sampai habis tak bersisa. Masih ada dalam genggamannya bertahun-tahun lagi untuk menjalin kerjasama dengan para koruptor di negeri ini. Kenapa dia harus repot-repot jadi anggota dewan kalau bukan untuk semua itu? Wanita itu tertawa dalam hati. Dunia ini sudah tidak sepolos itu.
Terik mentari jatuh menyinari hijaunya pohon dan mata jernih sang mawar yang sedang menggoda kupu-kupu. Tampaknya kupu-kupu sedang berpikir, akan memilih mawar berduri atau pesona keperawanan bunga lain? Mentari sama sekali tak peduli, sinarnya yang hangat mengalahkan hangatnya seduhan teh manis dalam cangkir putih yang terhidang di depan bos-bos eksekutif. Bahkan sinarnya mampu menembus hati, menghangatkan sanubari yang lelah mencari sesuap nasi.
Seorang anak kecil berjalan sambil menenteng sepatu bututnya, mengiba pada para penghuni jalanan yang lewat di depannya. Matanya mengedip-ngedip merayu manja berharap recehan akan didapatkannya dari tangan-tangan sang derma. Teracuh, anak kecil itu bak patung selamat datang saja, tak satupun orang peduli, bahkan melirik padanya. Sekitar lima langkah kaki, wanita itu mengamati si kecil, lagi-lagi dia menyipitkan mata. Tangannya mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dan memberikannya pada anak itu. Seketika si anak menjerit histeris dan menciumi wanita itu, yang menghindar dengan tatapan jijik. Wajahnya cemberut dan garis-garis parasnya nampak tidak suka. Si anak semakin histeris, seakan tak pernah melihat sesuatu yang lebih bernilai daripada uang. Jelas, tak ada yang sebanding dengan nominal uang yang ada di tangannya.
Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata. Dia tidak suka seseorang menyentuh tubuhnya, apalagi menciuminya. Bisa saja dia menampar wajah anak kecil itu, yang telah lancang menodai bajunya yang suci. Tapi di depan rakyat, dia bisa saja berakting. Bukankah hidup ini hanya sandiwara?
“Terimalah uang itu, Nak. Berilah keluargamu makanan yang lezat-lezat malam ini.” ucapnya dengan suara mendayu-dayu.
Orang-orang di sekitar jalan menoleh, ingin tahu apa yang terjadi ketika seorang anak tiba-tiba menjerit, mengharu-biru di tengah-tengah mereka. Sebagian mengenali wanita itu, mereka yang memilihnya dengan sedikit uang kotor pada pemilihan umum. Namun sebagian tidak mengenali, hanya saja mereka ikut terenyuh atas perbuatan mulia wanita itu, yang tidak semua orang bisa lakukan. Mungkin sebagian yang belakangan ini berhasrat memilih wanita itu di pemilihan yang akan datang. Ya, seakan mendapat keberuntungan besar, wanita itu tidak tahu kalau orang-orang yang telah disuapnya mulai membisikkan rayuan-rayuan surga pada yang lain, dengan harapan mendapat tip lebih banyak. Sekali tepuk, dua lalat mati.
Wanita itu mendatangi pengemis, berbagi sedekah pada mereka...
Para korban bencana, ikut membantu pendanaan dan pengungsian...
Pengamen jalanan, mencarikan pekerjaan...
Sopir bus, mendengarkan keluh kesah mereka...
Buruh dan para petani, menyelesaikan masalah panen dan pengairan...
Pedagang pasar, membantu mengendalikan laju dan kenaikan harga-harga...
Tubuhnya rebah di atas ranjang putih nan empuk. Matanya terpejam menahan lelah karena sebulan ini tak berhenti mencitra di depan publik. Tentu, itu semua semata-mata demi pencitraan. Ah, ternyata menjadi orang munafik juga melelahkan dan butuh usaha keras. Siapa bilang hanya kebaikan yang butuh usaha ekstra? Nyatanya kejahatan membutuhkan usaha keras yang sama. Dunia ini sudah tidak selugu itu.
Matanya perlahan membuka, menatap langit-langit kamarnya yang luas dan berhias lampu kristal impor dari Brasil. Lagi-lagi wanita itu menyipitkan mata. Bibirnya mengulum senyum tipis, senyuman licik simbol kemenangan. Misi itu harus segera terlaksana! Pikirnya. Dia tidak boleh gagal. Tapi tenang, dia harus lebih sabar dan hati-hati sekarang. Memang sudah diduga, akan ada kerikil bahkan batu kasar yang jadi sandungan. Anjing-anjing di bawah telapak kakinya sudah mengendus kucing kampung yang mengganggu. Mudah, sekali libas batu dan kerikil itu akan tersingkir dan hilang selama-lamanya. Bahkan kucing kampung itu tak akan berani mengeong lagi.
Tak berhenti tersenyum, wanita itu bangkit dari ranjang dan meraih ponsel di atas meja berukir mewah khas Italia. Tangannya yang lentik menekan satu persatu tombol di layar handphone.
“Ya, Nyonya...” terdengar suara dari seberang.
“Lakukan mulai sekarang! Rencana kita. Bunuh semua yang hidup, tikus, kucing, buaya. Kita harus mulai bersih-bersih dari sekarang. Jangan sampai ada debu yang terlewat, apalagi sampah!”
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Kau tahu apa yang aku mau. Aku tidak ingin ada kegagalan. Aku tidak memerlukan bantahanmu! Cukup kau lakukan perintahku atau memang kau ingin pilihan yang lain, kau tahu maksudku.” ucap wanita itu dingin. Lagi-lagi dia menyipitkan mata.
“Tidak, Nyonya. Saya mengerti.”
Dua belas tahun kemudian....
Mentari enggan berkunjung. Pohon hijau tak lagi menyejukkan mata. Lalu lalang kendaraan mewah tak lagi meramaikan jalan. Bising para pedagang dan pembeli tak lagi terdengar. Suara merdu rerumputan yang bergesekan tak lagi tertangkap daun telinga.
Sebagai gantinya, awan hitam tak pernah berhenti membayangi tempat itu. Debu-debu dan sampah-sampah telah menjadi teman hidup yang setia. Angin menerbangkan sampah ke dalam sampah. Debu ke dalam debu, menjadikannya semakin kotor dan menjijikkan. Bau pengap menusuk hidung, membuat paru-paru sesak dan menyempit.
Negara makmur jaya raya, nama itulah yang tersemat. Dulu, dulu sekali, seakan telah berjalan ratusan tahun bahkan ribuan. Tak ada seseorang yang mengenali yang lain. Tak ada ayah yang mengenali anak-anaknya. Tak ada tetangga mengenali tetangganya. Semuanya menjadi orang asing. Orang asing, di negeri sendiri.
Kata orang, dulu sekali ada wanita yang berhasil memikat mereka dengan budi luhurnya. Kata orang juga, wanita itu menjadi pemimpin mereka. Dia, dengan segala pesonanya, dan bibirnya yang memuntahkan banyak janji, telah membutakan mata mereka. Lagi-lagi kata orang, wanita itu ternyata adalah musuh di dalam selimut. Apa yang dia ucapkan tak lain hanyalah racun berbahaya yang mampu membunuh siapa saja dalam sekali tikam. Kekuatannya sungguh dahsyat. Tak seorangpun mampu menandinginya. Ketika dia memutuskan untuk melaksanakan rencana iblisnya, tak satupun berdiri untuk menentangnya. Mungkin mereka sama saja, seperti wanita itu.
Sekarang pasti dia puas, wanita itu. Dia yang selalu menyipitkan mata ketika kebenaran datang padanya, dan kejahatan menjadi pilihan hidupnya. Meskipun demikian, sungguh aneh. Ketika kejatuhan menjemput negara itu, tak satupun teman mengulurkan tangan. Teman, yang katanya menjalin persahabatan bertahun-tahun. Teman, yang katanya pernah mengalami nasib yang sama. Dan teman, yang katanya juga menjadi warga dunia. Tidak, sungguh tidak ada.
Lolongan anak kecil mengganggu keheningan di dalam gang yang sempit itu. Tak ada seorang pun yang menoleh apalagi menolong sang pemilik suara. Untuk apa? Jika suara lolongan, jeritan, lengkingan, dan isakan tangis menjadi milik siapa saja di tempat ini. Untuk apa juga? Menolong orang lain sementara diri sendiri tidak tertolong. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Bukan sibuk dalam arti sebenarnya, melainkan sibuk melamun dan meratapi nasib.
Sayang, tanpa sepengetahuan mereka, wanita itu telah terpenjara dalam selnya yang dijaga ketat orang-orang ras putih. Mahkamah internasional telah menetapkannya sebagai tersangka dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Bagi mereka, mungkin bukan hukuman yang sepadan karena sama saja wanita itu telah membunuh jutaan manusia. Hukuman mati, seharusnya. Hukuman penjara seumur hidup justru lucu bagi wanita itu, yang selalu tersenyum dan tertawa kecil di dalam selnya. Tersenyum menunggu kematian yang pasti datang. Senyum penuh misteri, entah apa yang dia pikirkan.
Tapi, lagi-lagi kata orang, dia berbicara dengan suara parau kepada sipir penjara yang bertanya, meskipun dengan takut-takut.
“Aku hanya mempercepat penderitaan mereka. Sejak kecil hidupku menderita. Orang kaya menindas kami yang miskin. Para juragan selalu memeras kami, orang-orang lemah. Orang-orang di sekitarku pun menderita. Tak ada kebahagiaan dalam hidup kami. Aku pikir orang lain juga pasti menderita. Ternyata benar, mereka memang menderita. Kami sama-sama lemah, miskin, dan tertindas. Kami hidup seperti mayat, atau mayat yang dipaksa hidup. Jadi, kenapa aku tidak membantu mempercepat penderitaan mereka? Toh sama saja akhirnya, kami semua tetap menderita.”
By : Kunti Fadlilah
Sidomulyo Sidayu - Gresik
Artikel Terkait:
Lomba
- Daftar Pemenang Lomba Menulis
- Sakura: Diantara Derita dan Harakiri…
- Agus 'n The Backboys (Falling in Leave)
- Agus 'n The Backboys (Kerja Part Time)
- Agus 'n The Backboys (Si Manis Jembatan Gantung)
- Life Reward Me Hello
- Seperti Akuntansi
- Hidupku Kekasihku
- Gerilyawan
- Tips Mengatasi Masalah Cinta
- Aldi Cinta Indonesia Kok, Yah
- Pecandu Rokok
- Indonesia 2099
- Antara Malam dan Kawan
- Mami Minta Pulsa ??
- Di Waktu Yang Tepat
- Tentang Kamu dan Sebuah Rindu
- Sekeping Hati
- Tentang Sepotong Hati
- Berjalan ke pasar
- Pada ujung usia
- Daun diatas bantal
- Menanti Cahaya Pagi
- My Neighbor
- Tepi Romantisme
Cerita Menarik
- Daftar Pemenang Lomba Menulis
- Sakura: Diantara Derita dan Harakiri…
- Agus 'n The Backboys (Falling in Leave)
- Agus 'n The Backboys (Kerja Part Time)
- Agus 'n The Backboys (Si Manis Jembatan Gantung)
- Seperti Akuntansi
- Aldi Cinta Indonesia Kok, Yah
- Pecandu Rokok
- Mami Minta Pulsa ??
- Di Waktu Yang Tepat
- My Neighbor
- Tepi Romantisme
- Jelajah Toba, Samosir, Desa Janjimarapot dan segala kebaikan khas Batak
- Aku Juga Wanita
- I Luph U... Emak
- Epilog Doa III
- Paintball Made In Bagas
- Masih Ada Harapan Untuk Disa
- Es Rosella Untuk Kiara
- Kembalikan Mereka
- Gadget and Love
- Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
- Merindukan Izrail
- Komikmu dalam Komikku
merasuk dijiwa, dan penuh gairah pada isi artikelnyaa
ReplyDeletethanks sobb..
Deletepenuh dengan pesan moral...
ReplyDeletealhamdulillah
Deleteso inspiring...
ReplyDelete(y) :)
ReplyDeletegood
ReplyDeletekeindahan artikulasi bahasa yang disampaikan terlihat begitu sempurna...
ReplyDelete"syafiudin"
lebay... biasa ja kok kayaknya...
Deletemasih kalah ma danarto ma penulis sastra lain...
hehehe...
ya, kyakx biasa ja kata anda, karna kau yg membuatnya !
Deletetapi orang lain melihat itu, its amazing...
seperti orangnya. ^_^
hehehe...
danarto yg kau sbutkn, hnylah crita manis seorang penulis kmpulan cerpen masa lalu dgn sdret gelar prestiusx,,
tinggal tunggu wktu yg mnjwab.. aknkah kmpulan crita pndek yng kau imajinasikan berhasil menghapus namax dimasa yg akn dtang ?
waduh berat nih tantangannya??? tadi kudu tambah semangat...
Deleteoke oke boss... seneng didoain banyak orang
This comment has been removed by the author.
Deleteharus semangat...
Deletedan tulisan kmu yg bru dipublikasikn ttg autobiografi dgn judul sebuah alasan untuk bermimpi,, buagus jga,, kyakx smakin kdpan bnyak progres deh - tambah lbih mnarik !
jga pnasaran dgn kalimat "Terima kasih telah menjadi matahariku", sperti tdk asing lagi, dpat inspirasi drmna ?
itu terinspirasi dari kata-katanya naruto untuk ayah dan ibunya.. cuman kata-katanya nggak persis begitu sih... aku modif ajah,,, hehehe..
Deletethanks buat semua masukannya...
insyaAllah aku akan tetep berusaha jadi lebih baik...
Keren...
ReplyDeleteCeritanya seperti mengajak bicara..
thanks... :)
Delete