Friday, January 25, 2013

Es Rosella Untuk Kiara



Gemericik air terdengar dari belakang rumah meskipun waktu masih menunjukkan pukul 02.30. Nenek Aminah memang sudah terbiasa bangun lebih awal untuk menyiapkan segalanya sebelum berangkat ke pasar yang jaraknya lumayan jauh, yaitu sekitar lima kilometer. “ Kiara, bangun nak ayo bantu nenek di dapur sebentar” kata nenek sambil mengusap-usap dahi Kiara. Suara tersebut tak bosan Kiara dengar tiap hari dan Kiara dengan sabar membantu neneknya. Kiara adalah seorang anak yatim piatu yang dititipkan pamannya setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil.


“Kiara, nanti jangan lupa nenek titip uang SPP untuk disampaikan kepada Bu Gurumu di sekolah, sebab nenek nanti pulang agak siang dari pasar”. Kata nenek sambil sibuk membungkus nasi krawu menggunakan daun pisang. “Baik nek, nanti Kiara berikan kepada Bu Guru” jawab Kiara. Nenek berangkat berjalan kaki dengan memanggul bakul berisi penuh nasi krawu bungkus yang beliau jual di pasar. Pagi yang agak mendung itu Kiara dengan ceria memulai harinya dengan penuh semangat. “Assalamualaikum, Bu”. kata Kiara sambil mencium tangan Bu Heni yang sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah.

“Kiara, hari Sabtu besok kamu ada kegiatan ?” tanya Dinda
“Tidak ada, tapi meskipun hari libur aku tetap membantu nenek, kenapa?” kata Kiara

“Begini, … aku dengan Ayu berencana pergi bermain ke rumahmu sekalian ingin melihat koleksi tanaman toga milik nenekmu” kata Dinda. Memang pada hari itu Bu Heni menjelaskan materi tentang manfaat tanaman toga dan Bu Heni memberikan tugas kepada para siswanya untuk membuat kliping tentang manfaat tanaman toga.

Minggu yang cerah telah datang, Dinda dan Ayu berboncengan naik sepeda menuju rumah Kiara.
“Assalammualaikum,…. Kiara….Kiara” sambil mengetuk pintu kedua anak itu mengucap salam. “Waalaikum salam, Hei, Dinda, Ayu …. Ayo masuk” jawab Kiara.
“Dimana nenekmu, Kiara ?” tanya Ayu

“Masih di pasar, … bagaimana sambil menunggu nenek datang kita main dakon saja dulu ?” kata Kiara
“boleh….” jawab Dinda.  Setelah tiga puluh menit lamanya mereka bermain dakon, nenek datang dari pasar sambil membawa setandan pisang yang beliau beli dari pasar. “Kiara,… temannya kok tidak diberi minum dan kue” kata nenek. “maaf nek, … Kiara lupa” jawab Kiara sambil mencium tangan neneknya yang baru datang. “tidak apa-apa kok nek, kami sengaja datang kemari untuk melihat koleksi tanaman toga milik nenek” kata Dinda.

“Oh begitu,… nenek memang punya cukup banyak tanaman toga di halaman belakang, ayo…. nenek tunjukkan” kata nenek. Mereka dengan cermat melihat dan mendengarkan penjelasan nenek di halaman belakang rumah, tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada sekumpulan tanaman berbatang dan berbunga merah yang berada di ujung paling kiri kebun toga milik nenek. “ Nek, ini namanya tanaman apa?” tanya Dinda.  “Oh, … itu namanya tanaman rosella” kata nenek

“Nek, tanaman rosella itu apa manfaatnya dan bagaimana cara penggunaannya?” tanya Ayu
“Tanaman ini bisa digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, misalnya sariawan, bahkan untuk mencegah kanker. Biasanya tanaman ini digunakan untuk teh atau minuman” kata nenek.

“Wah, hebat ! Nek,..bolehkah kami meminta bunga rosella ini untuk kami buat es rosella?” kata Dinda yang tiba-tiba memiliki ide membuat es rosella. “boleh, idemu hebat juga nak” kata nenek. “Din, darimana kamu dapat ide itu ?” tanya Kiara.

“Begini Kiara, aku dan Ayu ingin mengajak kamu berjualan es rosella di pasar pada hari minggu yang akan datang. Nanti kita berdua yang akan menyediakan modal sedangkan kamu cukup menyediakan bahan baku bunga rosella, aku dapat ide ini dari majalah yang aku baca di sekolah, bagaimana?” tanya Dinda. “Boleh juga idemu itu” kata Kiara.

Tugas kliping yang mereka kumpulkan mendapat nilai dan penghargaan yang bagus dari Bu Heni. Beliau menghargai kerja keras mereka karena mereka memiliki inovasi pada tanaman rosella. Hari yang mereka tunggu dan janjikan telah datang juga. Mereka berdua datang lebih pagi dari semula ke rumah Kiara karena mereka harus bekerja sesuai dengan rencana yang telah mereka buat jauh-jauh hari. Kiara telah menyiapkan baskom dan saringan yang biasa digunakan nenek untuk memasak.

“Yu, … jangan lupa gulanya hanya setengah kilogram saja untuk membuat es rosella!” perintah Dinda. Kiara pun membantu Dinda mencuci bunga rosella yang telah dipetik sejak pagi tadi. Setelah semuanya bersih barulah bunga rosella tersebut dimasak dan disaring ke dalam toples plastik besar yang sengaja Dinda bawa dari rumah. “Alhamdulillah, … akhirnya semua selesai dengan baik.” Kata Dinda. “Din, bagaimana cara membawa es rosella ini?” tanya Kiara

“Nanti toples besar berisi air rosella itu kita bawa dengan sepeda sambil jalan sedangkan Ayu membawa peralatan lainnya” kata Dinda. Pagi hari itu mereka berangkat dengan ceria dan penuh harapan menuju ke pasar.

Setibanya di pasar mereka menggelar dagangan es rosella di lapak dekat dengan nenek yang berjualan nasi krawu. Dinda dan Kiara kewalahan melayani pembeli yang ramai membeli es rosella saat itu sedangkan Ayu pergi ke toko membeli plastik, karet gelang dan es batu untuk persediaan karena memang persediaan es batu mereka hampir habis. Tak lama kemudian es rosella itu terjual habis. “Alhamdulillah, Nek es rosella kami habis terjual” kata Dinda. “Iya nak,…nasi krawu miliki nenek juga hampir habis tinggal empat bungkus yang belum laku terjual, kita makan siang dulu saja nak, setelah itu kita berbenah dan shalat dhuhur di masjid.” kata nenek. Mereka senang makan siang dengan nasi krawu yang sengaja diberikan oleh nenek, lalu setelah berbenah dan membereskan barang mereka menuju masjid untuk shalat dhuhur.  

Setiba di rumah Kiara, Dinda dan Ayu beristirahat di belakang rumah Kiara. “Kiara, … kira-kira kita dapat untung berapa ya?” tanya Dinda “Wah… pasti untung banyak coba kita hitung sama-sama nanti, ya” kata Kiara. Tapi wajah ceria Kiara tiba-tiba berubah setelah merogoh kantung celananya. “Nek… apa nenek tahu dompet warna hijau yang Kiara bawa tadi ?” tanya Kiara.

“Maaf nak, nenek tidak tahu karena nenek tadi sibuk berbenah barang-barang bawaan milik nenek” jawab nenek. Seketika itu juga mata Kiara berkaca-kaca, ia lalu tidak menghampiri teman-temannya yang masih di halaman belakang, namun Kiara menuju ke kamarnya. Ia menutup pintu kamar lalu menutup wajahnya dengan bantal. “Kiara..Kiara…buka pintu kamarnya nak, nenek ingin bicara sebentar.” kata nenek. “Kiara, …kenapa nek?” tanya Dinda.

“Kiara lupa meletakkan dompetnya setelah berbenah di pasar.” jawab nenek. Setelah lima menit lamanya Kiara mengunci dirinya di dalam kamar, akhirnya ia mau membuka pintu kamar untuk neneknya. “Kiara, …tidak usah bersedih, rejeki itu datangnya dari Yang Kuasa, kalau Ia berkehendak pasti ada jalan, yang penting Kiara bersabar, ikhlas dan berdoa.” kata nenek sambil mengusap air mata cucu semata wayangnya itu.

“Assalamualaikum, ….Bi Aminah, Bi …” terdengar suara laki-laki di depan pagar rumah nenek Aminah. “ walaikum salam, eh…Pak Yusuf, ada apa ya ?” tanya nenek

“Kebetulan saya lewat sini nek, tadi di masjid saya menemukan dompet warna hijau, setelah saya lihat ternyata ada kartu pelajar milik Kiara.” kata Pak Yusuf.

“Alhamdulillah, ternyata Allah memberi kita jalan. Nek…uangnya masih utuh tidak ada yang hilang sama sekali. Terima kasih Pak Yusuf, terima kasih nek.” kata Kiara.

Setelah kejadian tersebut Kiara menjadi ceria kembali. Kiara berencana menabung uang hasil penjualan es rosella tersebut untuk digunakan membeli sepeda agar nenek tidak berjalan lagi ketika berjualan menuju ke pasar.

By : Rudi Ircham, S.Si
Manyar - Gresik




Artikel Terkait:

0 Comments
Tweets
Komentar FB

0 komentar :

Post a Comment